Have Something and Be Something

diposting dari http://likalikumlm.blogspot.com

Saat ber MLM ria, adalah hal yang sangat wajar jika seseorang kemudian MEYAKINI bisnis ini sebagai kendaraan yang tepat untuk MEMILIKI SESUATU dan atau MENJADIKAN kita sebagai sesuatu. Pertanyaannya adalah : "Akankah kita benar - benar bisa memiliki sesuatu yang kita inginkan itu ? Apakah kita benar - benar AKAN MENJADI seseorang yang kita inginkan ?"

BAYANGAN mental yang jelas mengenai apa yang ingin kita capai dimasa depan kita sebut sebagai visi.

Albert Einstein mengatakan bahwa imajinasi adalah sebuah kualitas yang lebih penting dari sebuah pengetahuan. Karena semua penggunaan bakat, intelek, pendidikan, dan pengalaman ditentukan arahnya oleh apa yang kita BAYANGKAN dalam pikiran kita.

Kita TIDAK MUNGKIN bekerja bertentangan dengan NIAT - NIAT PENCAPAIAN dari yang sedang TERBAYANGKAN dari benak kita.Ingin memiliki sesuatu. Ingin menjadi sesuatu.

MEMBAYANGKAN SESUATU, Imajinasi, bukanlah sebuah bakat, tetapi sebuah KECENDRUNGAN YANG MENGUAT dan berperan karena KEPUTUSAN PRIBADI kita. Semakin kita BERSUNGGUH - SUNGGUH menggunakan apa yang kita BAYANGKAN sebagai penuntun bagi keefektifan kerja kita dalam ber MLM ria, semakin kuat dan akurat BAYANGAN kita mengenai apa yang ingin KITA MILIKI ( To Have & To Be).

Tidak sedikit praktisi MLM yang menjalankan bisnis ini dengan kekwatiran-kekwatiran pribadinya sendiri. Sehingga meskipun dia sadar dengan tuntunan untuk mendatangkan perubahan-perubahan yang berarti, dia justru menambahkan batasan-batasan baru diatas batasan-batasan lama.

PADAHAL, wilayah-wilayah yang kita anggap aman selama ini (Menjadi karyawan, memiliki deposito, bla ..bla..bla...) sebetulnya hanya dan masih berada dalam BAYANGAN .

JIKA kita ingin mengetahui kemungkinan-kemungkinan yang bisa kita capai, PAKSALAH diri kita untuk MEMBAYANGKAN yang selama ini TIDAK DAPAT KITA BAYANGKAN.

Dan jika kita BERANI MENETAPKAN IMPIAN, maka sebetulnya tidak ada apapun yang membatasi kita untuk dapat melakukanya. Untuk MENGEJAR apa yang diimpikan.

KONON. Rahasia keberhasilan praktisi MLM dimasa depan adalah kemampuan untuk melihat sesuatu dengan jelas sebelum sesuatu itu menjadi jelas bagi semua orang.

Dan bukan kebetulan mengapa hari ini anda ber MLM ria, karena andalah yang akan menghadirkan kualitas masa depan yang cemerlang itu, dengan menjadikan MLM sebagai kendaraannya.

Keberhasilan kita dalam ber MLM ria, tidak hanya diukur dari seberapa besar dan tinggi daratan impian yang bisa kita capai di akhir perjalanan;
tetapi keberhasilan kita - terutama dinilai dari kualitas dari perjalanan kita.

Maka .....

Bila kita menjaga kualitas perjalanan harian kita dalam ber MLM ria, maka kapan pun perjalanan itu berakhir - perjalanan kita akan berakhir dengan baik.

BERANIKANLAH UNTUK MEMBAYANGKAN sesuatu yang ingin Anda miliki. BERANIKANLAH untuk MENJADI SESUATU di kemudian hari ...

Namun ...

Sadarilah bahwa,

MUNGKIN selama ini ...

Kita BELUM MENYERTAKAN UPAYA YANG OPTIMAL untuk menjadikan kita PANTAS "Menjadi seseorang" atau "memiliki sesuatu".

Maka pertanyaannya adalah :

Apakah yang sedang KITA KERJAKAN hari ini adalah upaya bernilai yang akan menjadikan Kita PANTAS menerima yang KITA minta?

Sebagian dari kita sedang tidak sabar untuk membangun hasil-hasil INSTANT dalam ber MLM ria, dan sebagian lagi sedang tidak sabar untuk segera keluar dari bisnis ini.

Mereka berbeda, tetapi mereka memiliki kesamaan yang akut; yaitu keduanya menginginkan keberhasilan melalui pekerjaan mereka. Yang satu menginginkan keberhasilan melalui yang dikerjakannya, dan yang satu ini menginginkan keberhasilan dari apa yang TIDAK dikerjakannya.

Marilah kita Hubungi sponsor kita hari ini, untuk mengatakan bahwa kita menghubungi hanya untuk mengatakan TERIMA KASIH atas kesediaannya untuk membimbing Kita selama ini. Mari kita hubungi mitra kerja kita untuk mengatakan bahwa kita menyayangi mereka semua.

Mari kita kembali pada PERTANYAAN di awal tulisan ini ...

"Akankah kita benar - benar bisa memiliki sesuatu yang kita inginkan itu ? Apakah kita benar - benar AKAN MENJADI seseorang yang kita inginkan itu ?"

TIDAK MASALAH apakah kita akan benar -benar bisa memiliki atau menjadi apa yang kita inginkan. Tugas kita adalah MENCOBA. Karena dengan MENCOBA itulah kita YAKIN bahwa kita AKAN MENEMUKAN dan BELAJAR MEMBANGUN KESEMPATAN untuk BISA MEMILIKI apa yang ingin kita miliki dan bisa MENJADI apa yang kita inginkan.

(to) Have Something.
(to) Be Something.

Semoga Bermanfaat.

KARAKTERISTIK PEMIMPIN SEJATI

“Nabi mereka berkata kepada mereka: Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi raja kalian. Mereka menjawab: Bagaimana Thalut memerintah kami padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan dari padanya. Sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang banyak. Nabi mereka menjawab: Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahkan ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa. Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki_Nya dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah:247)

Manusia adalah makhluk social yang harus berinteraksi dengan sesamanya, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, maupun Negara. Agar interaksi itu berjalan baik,mutlak diperlukan seorang yang lebih berkualitas dan disegani di antara mereka yaitu pemimpin. Keberadaan pemimpin adalah keharusan, terutama dalam kaitannya dengan umat Islam yang saat ini terpuruk secara global dalam berbagai aspek kehidupan.
Allah sebagai Pencipta, Pemilik, dan Pengatur kehidupan tentu saja punya ketentuan tersendiri bagi seorang yang akan memimpin di bumi-Nya. Ketentuan itulah yang digambarkan dalam ayat di atas.

Ayat Politik dan Pemerintahan
Ayat di atas merupakan ayat politik dilihat dari rangkaian peristiwanya. Ayat tersebut mengisahkan kaum Yahudi yang ingin melawan kekuasaan musuh-musuh mereka. Selain itu secara eksplisit ayat ini menyebutkan istilah perang dan pemerintahan atau kekuasaan.
Menurut Sayyid Qutb dalam Fii Zhilalil Quran, ayat ini menunjukkan bahwa kepemimpinan merupakan wewenang Allah,maka Dialah yang berhak menentukan sesuai dengan kehendak-Nya. Dengan demikian seorang pemimpin sebenarnya terikat dengan Allah.
Al-Mawardi pada abad XI mengatakan bahwa sesungguhnya sebuah kepemimpinan terikat oleh kontrak sosial dan kontrak dengan Allah SWT. Dikatakan kontrak sosial karena secara fungsional kerja, seorang pemimpin terikat dengan kepentingan masyarakat yang dipimpinnya. Pemimpin yang bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri adalah pemimpin yang menghianati rakyatnya.
Dikatakan kontrak dengan Allah SWT, karena pada hakekatnya kepemimpinan adalah amanah dan beban bukan penghormatan. Beratnya amanah itu dapat dilihat dari teguran Nabi Muhammad SAW kepada Abu Dzar Al-Ghifari: “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah (tidak bias memangku jabatan itu), padahal jabatan itu adalah amanah.Ia dalah nistadan penyesalan, kecuali yang menerimanya dengan hak (sesuai dengan sistem dan mekanisme yang berlaku serta menunaikan kewajibannya).”
Bahkan Rasulullah SAW tidak memberijabatan kepada orang yang memintanya dan berambisi untuk mendudukinya. Dengan demikian tanggung jawab horizontal dan amanah vertical dari kepemimpinan itu tidak bisa lepas dari nilai-nilai yang ditentukan Allah.
Ayat tersebut di atas, merinci sifat-sifat pemimpin yang ditunjukkan Allah untuk memimpin manusia, terutama dalam cakupan pemerintahan;
1. Kejernihan HATI
Karakteristik ini diambil dari kata ishthafahu pada perkataan Nabi Kaum Yahudi: Innallahashthafahu alaikum. Kata yang diterjemahkan dengan telah memilihnya, berasal dari kata Shafa yang berarti jernih dan bersih. Inilah kualitas yang paling mendasar dari seorang pemimpin.
Kualitas ini meliputi seluruh spectrum nilai ketaqwaan dan keimanan. Antara lain kecintaannya kepada Allah begitu hebat, orientasi hidupnya kepada akhirat begitu kuat dan nyata dalam setiap ucapan dan perilakunya; ibadahnya tekun dan khusyu; akhlaknya mulia kepada siapapun; jiwanya bersih dari ambisi duniawi dan selera nafsu; hatinya bebas dari benci; semesta kesadarannya hidup dengan keikhlasan,kesabaran, dan tawakkal; rasa syukur dan taubat begitu menyala-nyala di segenap ruang bathinnya; semangatnya bergelora untuk selalubersikap jujur; sikap ara’ dan qanaah menjadi kesehariannya; apa yang menjadi hasratnya tidak lain hanyalah keinginan untuk berkorban menebar jihad dan amal shalih.
Masalah terbesar dalam kepemimpinan di era modern ini adalah tidak berfungsinya hati nurani di kalangan para pemimpin. Jiwa mereka dibutakan oleh nikmatnya kekuasaan sehingga membuat mereka lalai dan terlena dari tanggung jawab untuk menggunakan kepemimpinannnya dalam membahagiakan rakyat dunia akhirat. Olehnya itu dibutuhkan pemimpin yang berhati bersih untuk mengubah wajah dunia. Dan pemimpin jenis ini hanya lahir dari komunitas orang-orang shalih yang menjadikan tarbiyah dan jihad sebagai manhaj berjamaah.
2. Keluasan Ilmu
Menjadi pemimpin dari sebuah pemerintahan berarti harus mengurus semua aspek kehidupan. Olehnya itu seorang pemimpin harus memiliki keluasan ilmu dengan penguasaan yang memadai. Ia harus mengerti berbagai persoalan kemasyarakatan, harus cerdas baik secara intelektual, emosional, maupun spiritual. Ia juga harus menguasai manajemen serta berbagai kecakapan berpolitik lainnya.
Umar bin Khathab ketika menjabat sebagai khalifah pernah mengakui secara terus terang kelebihan Abu Bakar dalam menempatkan anggota. Suatu ketika Abu Bakar memilih Khalid bin Walid untuk menjadi panglima perang, Umar tidak sepakat karena menurutnya Khalid kurang mendalam pemahaman Islamnya. Maka ketika ia menggantikan Abu Bakar, hal pertama yang dilakukannya adalah menurunkan Khalid. Khalid menyerahkan jabatannya dengan sikap sam’na wa atha’na kepada penggantinya yang lebih ‘alim darinya yakni Abu Ubaidah.
Bertahun-tahun kemudian setelah Khalid bin Walid wafat, Umar menyadari bahwa Abu Bakar lebih ahli darinya. Abu Bakar lebih berilmu dalam menempatkan orang sesuai dengan potensi dan bakat yang dimilikinya. Sekalipun Abu Ubaidah lebih ‘alim dalam urusan keagamaan tetapi ilmu dan pengalaman perang yang dimiliki Khalid tidak ada tandingannya.
3. Kekuatan Fisik
Kekuatan fisik yang dimaksud adalah kesehatan, ketampanan, yang menarik simpati. Tidak salah dan tidak akan pernah salah, Allah menentukan syarat ketiga bagi seorang pemimpin berupa kekuatan fisik, karena tugas-tugas kepemimpinan bukan pekerjaan enteng. Banyak sekali energy yang dibutuhkan untuk mengurus segala macam urusan kemasyarakatan yang amat kompleks. Pemimpin yang sering sakit tidak akan efektik mengelolah amanah kepemimpinan yang diembangnya,sekalipun mungkin pemerintahannya bias jalan.
Ketiga syarat di atas sekaligus merupakan antithesis terhadap pandangan kaum Yahudi yang lebih menonjolkan kekayaan sebagai syarat kepemimpinan. Padahal seoarang pemimpin sejati adalah yang tidak berada dalam lingkaran kekayaan duniawi.
Sikap materialistis kaum Yahudi dalam urusan kepemimpinan ternyata dianut juga oleh kebanyakan masyarakat sekarang. Padahal sejarah mengatakan pandangan ini merupakan biang keladi lahirnya budaya korupsi, kolusi, dan nepotisme, seperti saling menjilat dan saling fitnah, berebut pengaruh, sogok, money polotic, dan lain-lain.
Dunia merindukan pemimpin yang berjiwa Qurani yakni pemimpin yang pada dirinya berpadu tiga hal mendasar; benar,pintar, dan tegar. Wallahu alam bishawab.